Senin, 08 Desember 2014

Makalah Pengembangan Diri tentang Stress



KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb....

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Stres dan Koping." ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan rasa terimakasih kepada yang terhormat:
1.      Ir. Lalu Darmawan Bakti, M,Sc., M.Kom, selaku Direktur di AMIKOM-ASM Mataram
  1. Multazam, S. Kom, selaku wali kelas Menejement Informatika A di AMIKOM-ASM Mataram
  2. Pujiarohman, S.Psi.,M.Psi.,Psiklog., selaku Dosen Pengembangan Diri di AMIKOM-ASM Mataram

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini belum sempurna. Untuk itu kami membuka kritik maupun saran bagi para pembaca agar perbaikan-perbaikan dapat dilakukan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan mewujudkan pengetahuan.

Wassalamu’alaikmum Wr...Wb....


Rumak, 20 Oktober 2014

Penulis






DAFTAR ISI
Judul halaman ..........................................................................................................
Kata pengantar ..........................................................................................................
Daftar isi.....................................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang masalah ........................................................................................
1.2  Rumusan masalah..................................................................................................
1.3  Tujuan penulisan....................................................................................................
1.4  Metode penelitian..................................................................................................
BAB II: ISI
2.1   Pengertian & Pembahasan ...................................................................................
2.2  Faktor – faktor yang menimbulkan stress pada manusia.......................................
2.3  Ciri-ciri orang yang mengalami stress........
2.4  Jenis-jenis stress....................................................................................................
2.5  Cara-cara mengatasi stress.....................................................................................
BAB III: PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................
3.2 Saran ....................................................................................................................
Daftar pustaka ...........................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Terminologi stres sebenarnya terlebih dahulu digunakan dalam bidang fisika, yaitu “stress”, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “tekanan”. Tekanan sendiri secara sederhana dapat dipahami sebagai gaya dari luar benda yang dalam batas tertentu dapat mengubah keadaan benda tersebut.
Berawal dari kajian di bidang fisika, stres kemudian mulai dikaji dalam konteks psikologi. Di dunia psikologi, ahli yang dianggap sebagai pionir dalam riset-riset mengenai stres adalah Hans Selye pada tahun 1950-an. Pada eksperimen yang awalnya bertujuan menemukan hormon baru ini, Seyle justru mendapatkan ilham mengenai konsep stres pada organisme. Meminjam istilah yang sudah populer di bidang fisika, Selye kemudian menggunakan istilah stres untuk menyebut efek dari stimulus luar (berupa substance yang merusak) yang dia ujikan pada organisme (tikus).
Definisi stres yang sepertinya cukup merangkum pendapat para ahli adalah definisi dari Santrock (2005). Stres didefinisikan sebagai respon seseorang, baik fisik maupun psikologis, terhadap stresor, yaitu segala keadaan ataupun peristiwa yang mengancam dan menguji kemampuan bertahan seseorang.
Respon fisiologis seseorang terjadi melalui mekanisme biologis dalam tubuh yaitu dengan mengeluaran senyawa kimia tertentu yang berasal dari bagian otak untuk memicu perubahan tertentu pada sistem tubuh, seperti naiknya tekanan darah, jantung yang berdegup lebih kencang (deg-degan), keringatan, sakit perut, sakit kepala dan sebagainya. Selain respon fisiologis, biasanya juga dibarengi dengan respon psikologis yang muncul antara lain cemas, gelisah, galau, dan sejenisnya.
Stress adalah satu keadaan gangguan emosional, pemikiran dan fisikal seseorang yang sering dilambangkan dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Keadaan hidup yang tidak memuaskan sering kali mengakibatkan pemikiran yang tidak baik dan membawa gejala ketidakpuasan dalam jiwa dan hati seseorang, sehingga mengakibatkan ketegangan atau stress. Manusia seringkali mengadu bahawa ia mengalami stress, 'tension' atau tegang. Bahkan jika seseorang tidak bisa mengatasi keadaan stress yang ada pada dirinya, maka jalan satu-satunya yang dapat ia ambil adalah kematian (bunuh diri).
Sangat jarang sekali ada orang yang dapat melawan rasa stress yang ada pada dirinya. Untuk itu kami ingin berbagi solusi/tips bagaimana cara yang benar untuk menghilangkan rasa stress yang dialami.
1.2   Rumusan Masalah
1.      Seperti apa pandangan islam dan para ahli psikologi tentang stress?
2.      Apasaja jenis-jenis stress?
3.      Apa ciri-ciri orang yang mengalami stress?
4.      Faktor apa saja yang dapat menimbulkan stress?
5.      Bagaimanakah solusi atau cara mengatasi stress

1.3  Tujuan
Adapun Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian stress menurut pandangan para ahli psikolog dan menurut pandangan islam. Serta bagaimana cara mengatasi stress dengan baik dan benar.

1.4  Metode Penilitian
Dalam penyususnan makalah ini, metode yang kami gunakan yaitu tinjauan  pustaka dan media internet. Kami mencari sumber dari berbagai media tersebut sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Dan Pembahasan
A.    Pendapat para ahli psikologi tentang stress
Dalam dunia psikologi, stres adalah terminologi yang mempunyai makna “netral”. Namun, penggunaan dalam bahasa dan budaya Indonesia menunjukkan bahwa istilah stres cenderung dipersepsi negatif. Dengan kata lain, stres adalah kata yang mempunyai makna yang negatif, jelek, buruk. Padahal, sebenarnya tidak demikian.
Salah satu konsep yang cukup berkembang dalam kajian mengenai stres ini adalah penilaian kognitif (cognitive appraisal) terhadap stres dari Richard S. Lazarus (Durand & Barlow, 2006). Penilaian kognitif atas stresor yang datang menjadi semacam “hakim” yang memutuskan apakah stresor itu akan dianggap sebagai stres atau bukan.
Menurut penelitian-penelitian terkait, stresor baru akan dianggap sebagai stres yang menuntut seseorang untuk beradaptasi ketika sudah melewati satu lapis pertahanan mental manusia yang disebut sebagai penilaian kognitif tadi. Ketika stresor datang, manusia akan terlebih dahulu mengaktifkan penilaian kognitif untuk memutuskan apakah stresor itu dianggap mengancam atau tidak.
Jika dianggap mengancam, proses selanjutnya adalah mengaktifkan lapis pertahanan mental yang kedua, yaitu penilaian kognitif lanjutan mengenai kemampuan diri dalam menghadapi stresor tersebut. Jika dirinya menilai mampu, akan terjadi apa yang disebut sebagai stres baik (eustress). Sebaliknya, jika tidak mampu, akan terjadi stres buruk (distress).
Stres baik adalah stres yang membuat seseorang yang mengalaminya melakukan tindakan-tindakan positif (diterima secara budaya dan moral) yang memungkinkan untuk mengatasi stresornya tersebut. Sebaliknya, stres buruk merupakan stres yang membuat seseorang melakukan tindakan negatif untuk mengatasinya.
Jika pada lapis pertama penilaian kognitif tadi justru menyimpulkan bahwa stresor yang datang itu tidak mengancam, selesailah perkara. Ini berarti bahwa seseorang itu tidak sedang menghadapi stres sehingga tidak memerlukan respon adaptif untuk mengatasinya.
B.     Pendapat Islam tentang stress
Secara bahasa, depresi berarti gangguan jiwa pada sesorang yang ditandai dengan perasaan yang menurun, seperti muram, sedih, dan perasaan tertekan. Yang namanya sedih bisa ringan, bisa berat, dan bisa berat sekali sampai kalut dan tak tertahankan sehingga meronta-ronta. Secara umum orang tidak membedakan antara depresi dan stress. Padahal, secara terminologi kesehatan, stress berarti terganggunya faal tubuh sebagai akibat ketidakmampuan sesorang mengatasi atau menyesuaiakan diri dengan problem yang dihadapinya. Misalnya karena mendengar tiba-tiba berita meninggalnya keluarga dekat, seseorang menjadi pusing, sering buang air besar atau buang air kecil, kedinginan, dan menggigil. Ini adalah gejala stres karena yang terganggu adalah jasmani. Jika yang terganggu pada jiwa, seperti sedih yang bersangatan atau bingung atau kalap sehingga tidak mampu berpikir serta kehilangan kesadaran normal dan bahkan melakukan tindakan bunuh diri, ini disebut depresi. Jika ketergangguan pada jiwa menyebabkan ketergangguan pada pisik, maka ini disebut psikosomatik.

Misalnya, seorang yang merasa sakit pada kepala, persendian tertentu, dan pada arah jantung, tetapi pemeriksaan medis lengkap tidak memberi indikasi penyakit fisik. Ini kemungkinan pengaruh gangguan psikologis berupa perarasaan sedih, kalut, dancemas yang berkepanjangan.

Dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata yang mengandung makna-makna sedih ini. Di antaranya, huzn, iktiyab, jaz’, faz`. Semua kata ini mengan-dung makna sedih sekalipun bervariasi tingkat berat dan ringannya. Huzn berarti kesedihan, iktiyab kesediahan yang berat dan mendalam, dan jaz` sedih berkeluh kesah. Sedih selalu ditandai dengan menangis dan senang dengan tertawa. Kata huzn dan kata jadiannya banyak digunakan dalam Alquran. Kata huzn setidaknya digunakan dalam Alquran 42 kali. Misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 38, “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada atas mereka ketakutan dan tidaklah mereka bersedih,” al-A`raf ayat 35, “Maka barangsiapa yang bertakwa dan berbuat baik, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka bersedih,” Ali Imran ayat 139, “Dan janganlah kamu merasa rendah dan jangan merasa sedih dan kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (mulia) jika kamu beriman.” Ketika sejumlah sahabat datang kepada Rasul ingin berangkat jihad, mereka bersedih tidak jadi berangkat jihad karena tidak memiliki harta yang akan mereka belanjakan. Kesedihan mereka ini disebutkan dalam surat at-Taubah ayat 92, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya engkau memberi mereka kenderaan, lalu engkau berkata, “Aku tidak memperoleh kenderaan untuk membawa kamu,” lalu mereka kembali sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan sebab tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”

Alquran menjelaskan tabiat manusia yang suka sedih dan berkeluh-kesah. Firman Allah dalam surat al-Ma`arij ayat 19-21, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Sebagai manusia, Nabi saw. pernah merasa sangat sedih sehingga seolah-olah hendak bunuh diri karena penduduk Makkah menolak beriman. Hal ini diterangkan dalam surat asy-Syu`ara ayat 3, “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman. Dalam hadis sahih juga diterangkan bahwa pada masa terputusnya wahyu, Nabi saw. sangat sedih karena cemas Allah telah meninggalkannya. Begitu beratnya kesedihyan yang dialami Nabi pada waktu itu sehingga ia merasa hendak mencam-pkakkan dirinya dari jabal Kubis. Ketika isteri Nabi, Khadijah dan pamannya, Abu Talib meninggal dalm waktu berdekatan, Nabi saw. pergi ke Taif mengharap kalau keluarganya yang tinggal di sana ada yang menyambut dan meringankan beban batinnya. Ternyata, di sana Nabi saw. diusir dan dilempari. Nabi kehilangan dua orang yang selalu membelanya dan mene-nangkan hatinya menghadapi tantangan dan ancaman dari pihak Kuraisy. Keadaan itu sangat memukul batin Nabi saw. sehingga tahun itu disebut `am al-huzn (tahun dukacita).
Setiap orang pernah mengalami stress, tapi sedikit orang yang dapat menangani dan mengatasinya. Ketika orang mengalami stress apapun yang ia kerjakan akan tidak terasa nyaman. Tapi seorang muslim yang yang teguh imannya tidak akan pernah mengalami stress, karena menurutnya strees itu adalah ujian dari Allah SWT dan kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Kelemahan hati yang menyebabkan rapuhnya hubungan individu itu dengan Allah SWT menyebabkan kehidupannya menjadi sempit, seolah-olah tiada jalan keluar dari setiap inci masalah. Dan karena masalah yang ia hadapi pikiran dan perasaannya tidak tenang atau stress.
Stress adalah ujian dari allah swt. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 115 yang berarti : “Allah menguji seseorang itu dengan perasaan takut, kelaparan, kekurangan harta, nyawa dan hasil-mahsul yang tidak menjadi dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang bersabar”. Dan sabda rasulullah saw dalam kitab riyadussolihin yang berarti : “Kesedihan atau malapetaka yang menimpa seseorang muslim merupakan kafarah kepada dosa yang dilakukan”. Artinya setiap masalah berupa kesedihan, malapetaka/musibah dan keresahan dalam hati setiap manusia adalah sarana untuk menghapuskan dosa yang ada pada diri seseorang. Akan tetapi itu semua tergantung apakah ia mampu bersabar dalam menghadapinya atau tidak.
2.2  Faktor-faktor yang menyebabkan stress
1)      FAKTOR DALAMAN
·         Keinginan melakukan yang terbaik
·         Terlalu ideal
·         Tiada keyakinan diri
·         Putus asa / rendah diri
·         Kurang pengetahuan agama
·         Terlalu menjaga kepentingan orang lain
·         Desakan untuk mendapat pujian / penghargaan
·         Kaki kerja (workholic)
·         Gagal menguruskan masa
2)      FAKTOR LUARAN
·         Ketua / majikan ( arahan tidak jelas & tidak sekata)
·         Konflik Pasangan hidup  (suami / isteri)
·         Konflik keluarga (anak bermasalah, penceraian ibubapa, dll)
·         Pengaruh dan masalah dengan Rakan / sahabat / jiran
·         Perubahan kerja yang terlalu kerap
·         Penempatan yang terlalu lama di suatu tempat kerja
·         Persekitaran dan kurang kemudahan/prasarana
·         Tidak mendapat penghargaan
3)      FAKTOR ISU SEMASA
·         Kegawatan ekonomi dunia 
·         Malapetaka / musibah
·         Jatuh sakit
·         Perubahan politik
·         Kehilangan orang yang disayangi / tempat bergantung
·         Perubahan status / kedudukan
·         Gagal dalam memenuhi kehendak jabatan
·         Perpisahan dan perceraian
2.3  Ciri-ciri orang yang mengalami stress
Tekanan hidup yang semakin hari semakin komples membuat stress tumbuh subur di tengah masyarakat. Sayangnya, mengingat gejala stress bertahap dan lambat, membuat banyak orang sama sekali tidak menyadari saat dirinya telah masuk ke dalam fase stress. Karenanya, penting untuk memahami ciri-ciri stress agar penderita bisa mengambil langkah penanggulangan sedini mungkin. Pada prinsipnya, stress menampakkan diri dengan bermacam cara. Namun, secara umum gejala atau ciri-ciri stress bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori yakni kognitif/emosional dan fisik.

Ciri-Ciri Kognitif

Jika diterjemahkan secara sederhana, maka stress tak lain adalah persoalan kejiwaan yang pada akhirnya bermuara pada jasmani seseorang. Ciri-ciri kognitif dari stress biasanya muncul terlebih dahulu ketimbang gejala fisik. Namun, sering kali kita tak menyadari hal tersebut sebab unsur kognitif stress terlihat normal. Adapun beberapa ciri-ciri stress dalam lingkup kognitif sebagai berikut:
·         Mudah merasa ingin marah (sensitif).
·         Merasa putus asa saat harus menunggu.
·         Gelisah, gugup dan cemas yang berlebihan.
·         Selalu merasa takut pada hal yang tidak jelas dan tanpa alasan.
·         Susah untuk memusatkan pikiran.
·         Sering merasa linglung dan bingung tanpa alasan.
·         Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)
·         Cenderung berpikir negatif terutama pada diri sendiri.
·         Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah).
·         Makan terlalu banyak meski tidak merasa lapar.
·         Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu.
·         Merasa tidak mampu mengatasi masalah dan cenderung sulit membuat sebuah keputusan.
·         Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai- nya).
·         Miskin ekspresi dan kurang memiliki selera humor. Kehilangan kemampuan dalam hal menanggapi situasi, pergaulan sosial, serta kegiatan-kegiatan rutin lainnya.

Ciri-ciri stress di atas merupakan gejala awal yang sering dianggap hal yang normal. Memang mengidentifikasi gejala stress bukan hal yang mudah, tetapi jika Anda mengalami lebih dari empat ciri-ciri kognitif di atas, besar kemungkinan Anda sedang berada di fase awal stress tanpa Anda sadari.

Ciri-ciri Fisik
Selain menyangkut masalah emosional, ternyata pada tahap yang lebih parah, penderita stress menunjukkan gejala fisik antara lain:
·         Otot-otot sering terasa tegang. Merasa lelah sewaktu bangun di pagi hari, menjelang sore dan bahkan setelah menyantap makanan.
·         Sakit punggung bagian bawah, merasa tak nyaman di bahu atau leher, sakit di bagian dada, sakit perut, kram  pada otot. 
·         Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya. 
·         Denyut jantung cepat dan cenderung berdebar-debar.
·         Telapak tangan dan sekujur tubuh sering berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik. 
·         Perut sering terasa bergejolak. 
·         Gangguan pencernaan dan cegukan  
·         Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan  
·         Napas lebih pendek dan terasa sesak.
2.4  Jenis-jenis stress

Eustress
        Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik. Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan secara fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja  individu, setidaknya dalam jangka pendek.
Distress
        Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan
tekanan darah. Distress atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis - distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
Distress akut
        Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba, menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan reaksi'lari atau melawan'. Sebuah wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum cukup siap adalah beberapa contoh yang bisa menyebabkan stres akut. Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah diidentifikasi. Gejala tersebut dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan keringat berlebihan.
Distress Episodic Akut
        Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.
        Orang yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.
Distress kronis
        Distress kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan stres kronis. Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi, kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah bahwa orang terbiasa dengan jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau diperlakukan sebagai cara hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.
        Kadang-kadang stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori lain, seperti physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr Karl Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang dikenal sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and encounter stress.

        Time stres adalah stres yang dialami ketika kita berjalan singkat atau memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory stress adalah stres yang kita alami tentang masa depan. Stres situasional biasanya disebabkan oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, ketika kita merasa cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan orang tertentu atau sekelompok orang, itu disebut sebagai encounter stress.


2.5  Cara Mengatasi stress/koping
Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk menghadapi situasi yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian diri,namun koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika menghadapi tekanan/stress.

Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun beragam.Ada yang menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi persoalan yang sifatnya positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai istilah yang netral.

Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian hari,bahkan sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu yang bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
Ada berbagai cara untuk mengatasi stress.kalau akibat stres telah mempengaruhi fisik,dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu,peranan obat/medikasi biasanya diperlukan.namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stress dalam jangka panjang.Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus.Disamping obat-obat tertentu membutuhkan biaya yang mahal,obat juga bias mengakibatkan ketergantungan dan bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
1.      Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.
2.    Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.
3.     Berhenti Merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stres karena dapat meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.
4.    Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat mengakibatkan terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak mengandung alkohol.
5.     Pengaturan Berat Badan
Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres.
6.      Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
7.      Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti depresi.
8.      Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.
9.  Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif di mana psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan lain-lain.
10.  Terapi Psikoreligius
Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi.
11. Homeostatis
Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi apabila tubuh mengalami stres yang ada sehingga tubuh secara alamiah akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang seimbang, atau juga dapat dikatakan bahwa homeostatis adalah suatu proses perubahaan yang terus menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh suatu sistemendokrin dan syaraf otonom. Secara alamiah proses homeostatis dapat terjadi dalam tubuh manusia. Dalam mempelajari cara tubuh melakukan proses homeostatis ini dapat melalui empat cara di antaranya:
a.       Self regulation di mana sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat sepertidalam pengaturan proses sistem fisiologis tubuh manusia.
b.       Berkompensasi yaitu tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan dalam tubuh.
c.        Dengan cara sistem umpan balik negatif, proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal segera dirasakan dan diperbaiki dalam tubuh dimana apabila tubuh dalam keadaan tidak normal akan secara sendiri mengadakan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan dari keadaan yang ada.
d.      Cara umpan balik untuk mengkoreksi suatu ketidakseimbangan fisiologis.

Pencegahan terhadap stres bisa dilakukan dengan mengubah sikap hidup.Orang yang terlibat lebih aktif dengan pekerjaan dan kehidupan masyarakat,lebih berorientasi pada tantangan dan perubahan ,dan merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah orang yang tidak akan mudah terkena efek negatif stress.












BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya.
Manifestasi Stress ; Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya, tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang.
Faktor yang mempengaruhi stress yaitu, faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor individu.
Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk menghadapi situasi yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian diri,namun koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika menghadapi tekanan/stress.
            Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun beragam.Ada yang menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi persoalan yang sifatnya positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai istilah yang netral.
            Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan baru di kemudian hari,bahkan sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada diri individu yang bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan individu semakin matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
3.2 Saran
            Ketika kau mengalami stress, ikutilah tips-tips cara mengatasi stress di atas. Insyaallah manjur, dan jangan lupa berdo’a.







DAFTAR PUSTAKA
-                 http://www.anugroho.com/stres-dan-jenisnya/
-                 http://ramliaw.wordpress.com/2010/09/26/depresi-dalam-pandangan-islam/
-                 http:/tips-menghilangkan-stress.blogspot.com/2012/09/apa-pengertian-stress.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar