KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb....
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul "Stres dan Koping." ini tepat pada waktu yang
telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan rasa terimakasih
kepada yang terhormat:
1. Ir. Lalu
Darmawan Bakti, M,Sc., M.Kom, selaku Direktur di AMIKOM-ASM Mataram
- Multazam, S. Kom, selaku wali kelas Menejement Informatika A di AMIKOM-ASM Mataram
- Pujiarohman, S.Psi.,M.Psi.,Psiklog., selaku Dosen Pengembangan Diri di AMIKOM-ASM Mataram
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini belum sempurna. Untuk itu
kami membuka kritik maupun saran bagi para pembaca agar perbaikan-perbaikan
dapat dilakukan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan mewujudkan
pengetahuan.
Wassalamu’alaikmum Wr...Wb....
Rumak, 20 Oktober 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Judul halaman ..........................................................................................................
Kata pengantar
..........................................................................................................
Daftar isi.....................................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang masalah
........................................................................................
1.2 Rumusan
masalah..................................................................................................
1.3 Tujuan
penulisan....................................................................................................
1.4 Metode
penelitian..................................................................................................
BAB II: ISI
2.1 Pengertian & Pembahasan
...................................................................................
2.2 Faktor –
faktor yang menimbulkan stress pada manusia.......................................
2.3 Ciri-ciri
orang yang mengalami stress........
2.4 Jenis-jenis
stress....................................................................................................
2.5 Cara-cara
mengatasi stress.....................................................................................
BAB III: PENUTUP
3.1 Kesimpulan
..........................................................................................................
3.2 Saran ....................................................................................................................
3.2 Saran ....................................................................................................................
Daftar pustaka
...........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terminologi stres sebenarnya
terlebih dahulu digunakan dalam bidang fisika, yaitu “stress”, yang
dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “tekanan”. Tekanan sendiri secara
sederhana dapat dipahami sebagai gaya dari luar benda yang dalam batas tertentu
dapat mengubah keadaan benda tersebut.
Berawal dari kajian di bidang
fisika, stres kemudian mulai dikaji dalam konteks psikologi. Di dunia
psikologi, ahli yang dianggap sebagai pionir dalam riset-riset mengenai stres
adalah Hans Selye pada tahun 1950-an. Pada eksperimen yang awalnya bertujuan
menemukan hormon baru ini, Seyle justru mendapatkan ilham mengenai konsep stres
pada organisme. Meminjam istilah yang sudah populer di bidang fisika, Selye
kemudian menggunakan istilah stres untuk menyebut efek dari stimulus luar
(berupa substance yang merusak) yang dia ujikan pada organisme (tikus).
Definisi stres yang sepertinya cukup
merangkum pendapat para ahli adalah definisi dari Santrock (2005). Stres
didefinisikan sebagai respon seseorang, baik fisik maupun psikologis, terhadap stresor,
yaitu segala keadaan ataupun peristiwa yang mengancam dan menguji kemampuan
bertahan seseorang.
Respon fisiologis seseorang terjadi
melalui mekanisme biologis dalam tubuh yaitu dengan mengeluaran senyawa kimia
tertentu yang berasal dari bagian otak untuk memicu perubahan tertentu pada
sistem tubuh, seperti naiknya tekanan darah, jantung yang berdegup lebih
kencang (deg-degan), keringatan, sakit perut, sakit kepala dan
sebagainya. Selain respon fisiologis, biasanya juga dibarengi dengan respon
psikologis yang muncul antara lain cemas, gelisah, galau, dan sejenisnya.
Stress adalah satu keadaan
gangguan emosional, pemikiran dan fisikal seseorang yang sering dilambangkan
dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Keadaan hidup yang tidak memuaskan sering
kali mengakibatkan pemikiran yang tidak baik dan membawa gejala ketidakpuasan
dalam jiwa dan hati seseorang, sehingga mengakibatkan ketegangan atau stress. Manusia
seringkali mengadu bahawa ia mengalami stress, 'tension' atau tegang. Bahkan
jika seseorang tidak bisa mengatasi keadaan stress yang ada pada dirinya, maka
jalan satu-satunya yang dapat ia ambil adalah kematian (bunuh diri).
Sangat jarang sekali ada orang yang
dapat melawan rasa stress yang ada pada dirinya. Untuk itu kami ingin berbagi
solusi/tips bagaimana cara yang benar untuk menghilangkan rasa stress yang
dialami.
1.2 Rumusan Masalah
1. Seperti apa pandangan islam dan para ahli psikologi
tentang stress?
2. Apasaja
jenis-jenis stress?
3. Apa
ciri-ciri orang yang mengalami stress?
4. Faktor
apa saja yang dapat menimbulkan stress?
5. Bagaimanakah
solusi atau cara mengatasi stress
1.3 Tujuan
Adapun Tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian stress menurut pandangan para ahli psikolog dan menurut pandangan islam. Serta bagaimana cara
mengatasi stress dengan baik dan benar.
1.4 Metode Penilitian
Dalam
penyususnan makalah ini, metode yang kami gunakan yaitu tinjauan pustaka dan media internet. Kami mencari
sumber dari berbagai media tersebut sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dan
Pembahasan
A. Pendapat para ahli psikologi tentang stress
Dalam dunia
psikologi, stres adalah terminologi yang mempunyai makna “netral”. Namun,
penggunaan dalam bahasa dan budaya Indonesia menunjukkan bahwa istilah stres
cenderung dipersepsi negatif. Dengan kata lain, stres adalah kata yang
mempunyai makna yang negatif, jelek, buruk. Padahal, sebenarnya tidak demikian.
Salah satu
konsep yang cukup berkembang dalam kajian mengenai stres ini adalah penilaian
kognitif (cognitive appraisal) terhadap stres dari Richard S. Lazarus
(Durand & Barlow, 2006). Penilaian kognitif atas stresor yang datang
menjadi semacam “hakim” yang memutuskan apakah stresor itu akan dianggap
sebagai stres atau bukan.
Menurut
penelitian-penelitian terkait, stresor baru akan dianggap sebagai stres yang
menuntut seseorang untuk beradaptasi ketika sudah melewati satu lapis
pertahanan mental manusia yang disebut sebagai penilaian kognitif tadi. Ketika
stresor datang, manusia akan terlebih dahulu mengaktifkan penilaian kognitif
untuk memutuskan apakah stresor itu dianggap mengancam atau tidak.
Jika dianggap
mengancam, proses selanjutnya adalah mengaktifkan lapis pertahanan mental yang
kedua, yaitu penilaian kognitif lanjutan mengenai kemampuan diri dalam
menghadapi stresor tersebut. Jika dirinya menilai mampu, akan terjadi apa yang
disebut sebagai stres baik (eustress). Sebaliknya, jika tidak mampu,
akan terjadi stres buruk (distress).
Stres baik
adalah stres yang membuat seseorang yang mengalaminya melakukan
tindakan-tindakan positif (diterima secara budaya dan moral) yang memungkinkan
untuk mengatasi stresornya tersebut. Sebaliknya, stres buruk merupakan stres
yang membuat seseorang melakukan tindakan negatif untuk mengatasinya.
Jika pada lapis
pertama penilaian kognitif tadi justru menyimpulkan bahwa stresor yang datang
itu tidak mengancam, selesailah perkara. Ini berarti bahwa seseorang itu tidak
sedang menghadapi stres sehingga tidak memerlukan respon adaptif untuk mengatasinya.
B. Pendapat Islam tentang stress
Secara bahasa, depresi berarti gangguan jiwa pada
sesorang yang ditandai dengan perasaan yang menurun, seperti muram, sedih, dan
perasaan tertekan. Yang namanya sedih bisa ringan, bisa berat, dan bisa berat
sekali sampai kalut dan tak tertahankan sehingga meronta-ronta. Secara umum
orang tidak membedakan antara depresi dan stress. Padahal, secara terminologi
kesehatan, stress berarti terganggunya faal tubuh sebagai akibat ketidakmampuan
sesorang mengatasi atau menyesuaiakan diri dengan problem yang dihadapinya.
Misalnya karena mendengar tiba-tiba berita meninggalnya keluarga dekat,
seseorang menjadi pusing, sering buang air besar atau buang air kecil,
kedinginan, dan menggigil. Ini adalah gejala stres karena yang terganggu adalah
jasmani. Jika yang terganggu pada jiwa, seperti sedih yang bersangatan atau
bingung atau kalap sehingga tidak mampu berpikir serta kehilangan kesadaran
normal dan bahkan melakukan tindakan bunuh diri, ini disebut depresi. Jika
ketergangguan pada jiwa menyebabkan ketergangguan pada pisik, maka ini disebut
psikosomatik.
Misalnya, seorang yang merasa sakit pada kepala,
persendian tertentu, dan pada arah jantung, tetapi pemeriksaan medis lengkap
tidak memberi indikasi penyakit fisik. Ini kemungkinan pengaruh gangguan
psikologis berupa perarasaan sedih, kalut, dancemas yang berkepanjangan.
Dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata yang
mengandung makna-makna sedih ini. Di antaranya, huzn, iktiyab, jaz’, faz`.
Semua kata ini mengan-dung makna sedih sekalipun bervariasi tingkat berat dan
ringannya. Huzn berarti kesedihan, iktiyab kesediahan yang berat dan mendalam,
dan jaz` sedih berkeluh kesah. Sedih selalu ditandai dengan menangis dan senang
dengan tertawa. Kata huzn dan kata jadiannya banyak digunakan dalam Alquran.
Kata huzn setidaknya digunakan dalam Alquran 42 kali. Misalnya dalam surat
al-Baqarah ayat 38, “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada
atas mereka ketakutan dan tidaklah mereka bersedih,” al-A`raf ayat 35, “Maka barangsiapa
yang bertakwa dan berbuat baik, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan
tidaklah mereka bersedih,” Ali Imran ayat 139, “Dan janganlah kamu merasa
rendah dan jangan merasa sedih dan kamu adalah orang-orang yang paling tinggi
(mulia) jika kamu beriman.” Ketika sejumlah sahabat datang kepada Rasul ingin
berangkat jihad, mereka bersedih tidak jadi berangkat jihad karena tidak
memiliki harta yang akan mereka belanjakan. Kesedihan mereka ini disebutkan
dalam surat at-Taubah ayat 92, “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang
apabila mereka datang kepadamu supaya engkau memberi mereka kenderaan, lalu
engkau berkata, “Aku tidak memperoleh kenderaan untuk membawa kamu,” lalu
mereka kembali sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan sebab tidak memperoleh
apa yang akan mereka nafkahkan.”
Alquran menjelaskan tabiat manusia yang suka sedih
dan berkeluh-kesah. Firman Allah dalam surat al-Ma`arij ayat 19-21,
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia
ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat
kikir. Sebagai manusia, Nabi saw. pernah merasa sangat sedih sehingga
seolah-olah hendak bunuh diri karena penduduk Makkah menolak beriman. Hal ini
diterangkan dalam surat asy-Syu`ara ayat 3, “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan
membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman. Dalam hadis sahih juga
diterangkan bahwa pada masa terputusnya wahyu, Nabi saw. sangat sedih karena
cemas Allah telah meninggalkannya. Begitu beratnya kesedihyan yang dialami Nabi
pada waktu itu sehingga ia merasa hendak mencam-pkakkan dirinya dari jabal
Kubis. Ketika isteri Nabi, Khadijah dan pamannya, Abu Talib meninggal dalm
waktu berdekatan, Nabi saw. pergi ke Taif mengharap kalau keluarganya yang
tinggal di sana ada yang menyambut dan meringankan beban batinnya. Ternyata, di
sana Nabi saw. diusir dan dilempari. Nabi kehilangan dua orang yang selalu
membelanya dan mene-nangkan hatinya menghadapi tantangan dan ancaman dari pihak
Kuraisy. Keadaan itu sangat memukul batin Nabi saw. sehingga tahun itu disebut
`am al-huzn (tahun dukacita).
Setiap orang pernah mengalami stress, tapi sedikit
orang yang dapat menangani dan mengatasinya. Ketika orang mengalami stress
apapun yang ia kerjakan akan tidak terasa nyaman. Tapi seorang muslim yang yang
teguh imannya tidak akan pernah mengalami stress, karena menurutnya strees itu
adalah ujian dari Allah SWT dan kesempatan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada
Allah SWT.
Kelemahan
hati yang menyebabkan rapuhnya hubungan individu itu dengan Allah SWT
menyebabkan kehidupannya menjadi sempit, seolah-olah tiada jalan keluar dari
setiap inci masalah. Dan karena masalah yang ia hadapi pikiran dan perasaannya
tidak tenang atau stress.
Stress adalah ujian dari allah swt. Firman Allah SWT
dalam surat al-Baqarah ayat 115 yang berarti : “Allah menguji seseorang itu dengan
perasaan takut, kelaparan, kekurangan harta, nyawa dan hasil-mahsul yang tidak
menjadi dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang bersabar”. Dan sabda
rasulullah saw dalam kitab riyadussolihin yang berarti : “Kesedihan atau
malapetaka yang menimpa seseorang muslim merupakan kafarah kepada dosa yang
dilakukan”. Artinya setiap masalah berupa kesedihan, malapetaka/musibah dan
keresahan dalam hati setiap manusia adalah sarana untuk menghapuskan dosa yang
ada pada diri seseorang. Akan tetapi itu semua tergantung apakah ia mampu
bersabar dalam menghadapinya atau tidak.
2.2 Faktor-faktor
yang menyebabkan stress
1)
FAKTOR DALAMAN
·
Keinginan melakukan yang terbaik
·
Terlalu ideal
·
Tiada keyakinan diri
·
Putus asa / rendah diri
·
Kurang pengetahuan agama
·
Terlalu menjaga kepentingan orang
lain
·
Desakan untuk mendapat pujian /
penghargaan
·
Kaki kerja (workholic)
·
Gagal menguruskan masa
2)
FAKTOR LUARAN
·
Ketua / majikan ( arahan tidak jelas
& tidak sekata)
·
Konflik Pasangan hidup (suami
/ isteri)
·
Konflik keluarga (anak bermasalah,
penceraian ibubapa, dll)
·
Pengaruh dan masalah dengan Rakan /
sahabat / jiran
·
Perubahan kerja yang terlalu kerap
·
Penempatan yang terlalu lama di
suatu tempat kerja
·
Persekitaran dan kurang
kemudahan/prasarana
·
Tidak mendapat penghargaan
3)
FAKTOR ISU SEMASA
·
Kegawatan ekonomi dunia
·
Malapetaka / musibah
·
Jatuh sakit
·
Perubahan politik
·
Kehilangan orang yang disayangi /
tempat bergantung
·
Perubahan status / kedudukan
·
Gagal dalam memenuhi kehendak jabatan
·
Perpisahan dan perceraian
2.3
Ciri-ciri orang yang mengalami stress
Tekanan hidup yang
semakin hari semakin komples membuat stress tumbuh subur di tengah masyarakat.
Sayangnya, mengingat gejala stress bertahap dan lambat, membuat banyak orang
sama sekali tidak menyadari saat dirinya telah masuk ke dalam fase stress. Karenanya,
penting untuk memahami ciri-ciri stress agar penderita bisa mengambil
langkah penanggulangan sedini mungkin. Pada prinsipnya, stress menampakkan diri
dengan bermacam cara. Namun, secara umum gejala atau ciri-ciri stress bisa
dikelompokkan ke dalam dua kategori yakni kognitif/emosional dan fisik.
Ciri-Ciri Kognitif
Jika diterjemahkan secara sederhana, maka stress tak lain adalah persoalan kejiwaan yang pada akhirnya bermuara pada jasmani seseorang. Ciri-ciri kognitif dari stress biasanya muncul terlebih dahulu ketimbang gejala fisik. Namun, sering kali kita tak menyadari hal tersebut sebab unsur kognitif stress terlihat normal. Adapun beberapa ciri-ciri stress dalam lingkup kognitif sebagai berikut:
·
Mudah merasa ingin marah (sensitif).
·
Merasa putus asa saat harus menunggu.
·
Gelisah, gugup dan cemas yang berlebihan.
·
Selalu merasa takut pada hal yang tidak jelas
dan tanpa alasan.
·
Susah untuk memusatkan pikiran.
·
Sering merasa linglung dan bingung tanpa
alasan.
·
Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah
mengingat)
·
Cenderung berpikir negatif terutama pada diri
sendiri.
·
Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah,
misalnya merasa gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah).
·
Makan terlalu banyak meski tidak merasa lapar.
·
Merasa tidak memiliki cukup energi untuk
menyelesaikan sesuatu.
·
Merasa tidak mampu mengatasi masalah dan
cenderung sulit membuat sebuah keputusan.
·
Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih,
marah, dan sebagai- nya).
·
Miskin ekspresi dan kurang memiliki selera
humor. Kehilangan kemampuan dalam hal menanggapi situasi, pergaulan sosial,
serta kegiatan-kegiatan rutin lainnya.
Ciri-ciri stress di atas merupakan gejala awal yang sering dianggap hal yang normal. Memang mengidentifikasi gejala stress bukan hal yang mudah, tetapi jika Anda mengalami lebih dari empat ciri-ciri kognitif di atas, besar kemungkinan Anda sedang berada di fase awal stress tanpa Anda sadari.
Ciri-ciri Fisik
Selain menyangkut masalah emosional, ternyata pada tahap yang lebih parah, penderita stress menunjukkan gejala fisik antara lain:
·
Otot-otot sering terasa tegang. Merasa lelah
sewaktu bangun di pagi hari, menjelang sore dan bahkan setelah menyantap
makanan.
·
Sakit punggung bagian bawah, merasa tak nyaman
di bahu atau leher, sakit di bagian dada, sakit perut, kram pada
otot.
·
Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat
dijelaskan kategorinya.
·
Denyut jantung cepat dan cenderung
berdebar-debar.
·
Telapak tangan dan sekujur tubuh sering
berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik.
·
Perut sering terasa bergejolak.
·
Gangguan pencernaan dan cegukan
·
Tidak dapat tidur atau tidur
berlebihan
·
Napas lebih pendek dan terasa sesak.
2.4
Jenis-jenis stress
Eustress
Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres yang baik yang
dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan lebih baik.
Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru, atau
bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan secara
fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat
memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu, setidaknya dalam jangka pendek.
Distress
Distress
Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah jenis
stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional. Distress
sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut, dan
kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala
fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan
tekanan darah. Distress atau 'stres
buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis - distres akut,
gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
Distress akut
Distress akut
Distres akut adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang
tiba-tiba, menjadikan kita ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya
berlangsung untuk jangka waktu pendek. Stres akut sering menghasilkan
reaksi'lari atau melawan'. Sebuah wawancara kerja, atau ujian dimana kita belum
cukup siap adalah beberapa contoh yang bisa menyebabkan stres akut.
Gejala-gejala stres akut dapat dengan mudah diidentifikasi. Gejala tersebut
dapat meliputi tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut jantung,
palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan keringat
berlebihan.
Distress Episodic Akut
Distress Episodic Akut
Istilah 'stres akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres
akut menjadi norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering
mengalami stres akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan
diri mereka berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan
tuntutan yang tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya
dapat menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.
Orang
yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat
menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya
hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah
lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan
nyeri dada.
Distress kronis
Distress kronis
Distress
kronis adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya
berasal keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap
dalam karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa
kecil adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan
stres kronis. Stres kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan,
dan dapat mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental.
Kelelahan mental dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan
masalah kesehatan seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat
menyebabkan depresi, kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim.
Mungkin aspek terburuk dari stres kronis adalah bahwa orang terbiasa dengan
jenis stres, dan sehingga sering diabaikan atau diperlakukan sebagai cara
hidup. Mengobati stres kronis tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis
dan tehnik manajemen stres.
Kadang-kadang
stres atau Distress diklasifikasikan menjadi beberapa kategori lain, seperti
physical, chemical, emotional, mental, traumatic, and psycho-spiritual. Dr Karl
Albrecht, seorang konsultan manajemen, dosen, dan penulis telah mendefinisikan
empat jenis stres dalam bukunya, 'Stres dan Manager'. Keempat jenis stres yang
dikenal sebagai time stress, anticipatory stress, situational stress, and
encounter stress.
Time
stres adalah stres yang dialami ketika kita berjalan singkat atau memiliki
banyak hal yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Anticipatory
stress adalah stres yang kita alami tentang masa depan. Stres situasional
biasanya disebabkan oleh situasi menakutkan yang berada di luar kendali kita.
Di sisi lain, ketika kita merasa cemas tentang bertemu dan berinteraksi dengan
orang tertentu atau sekelompok orang, itu disebut sebagai encounter stress.
2.5 Cara
Mengatasi stress/koping
Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh
indifidu unyuk menghadapi situasi yang menekan.Oleh karena itu meskipun koping
menjadi bagian dari penyesuaian diri,namun koping merupakan istilah yang khusus
digunakan untuk menunjukkan reaksi individu ketika menghadapi tekanan/stress.
Ada berbagai macam koping.Pendapat berbagai tokoh pun
beragam.Ada yang menyebutkan istilah koping hanya untuk cara-cara mengatasi
persoalan yang sifatnya positif.Namun ada juga yang melihat koping sebagai
istilah yang netral.
Koping yang negatif menimbulkan berbagai persoalan
baru di kemudian hari,bahkan sangat mungkin memunculkan berbagai gangguan pada
diri individu yang bersangkutan.Sebaliknya koping yang positif menjadikan
individu semakin matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani kehidupannya.
Ada berbagai cara untuk mengatasi stress.kalau akibat
stres telah mempengaruhi fisik,dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu,peranan
obat/medikasi biasanya diperlukan.namun obat itu sendiri kurang efektif untuk
mengatasi stress dalam jangka panjang.Ada efek negatif bila menggunakan obat
terus menerus.Disamping obat-obat tertentu membutuhkan biaya yang mahal,obat
juga bias mengakibatkan ketergantungan dan bahkan membuat orang tertentu kebal
terhadap obat tertentu.Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke
tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
1. Istirahat dan Tidur
Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam
mengatasi stres karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan
keadaan tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalam hidup dan
memperbaiki sel-sel yang rusak.
2. Olah Raga atau Latihan Teratur
Olah raga dan latihan teratur adalah salah satu cara
untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olah raga
dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu dan
tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat setelah itu mandi
dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran.
3. Berhenti Merokok
Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi
stres karena dapat meningkatkan ststus kesehatan dan mempertahankan ketahanan
dan kekebalan tubuh.
4. Tidak Mengkonsumsi Minuman
Keras
Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat
mengakibatkan terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras,
kekebalan dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat
dihindari karena minuman keras banyak mengandung alkohol.
5. Pengaturan Berat Badan
Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat
menyebabkan timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap
stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan meningkatkan ketahanan dan kekebalan
tubuh terhadap stres.
6. Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam
mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaaan
yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat
dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta
melihat aspek prokdutivitas waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan
sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat.
7. Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam
mengalami stres yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro
dan imunologi sehingga stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi
fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang
lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti
depresi.
8. Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang
ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat
mengganggu sistem tubuh yang lain.
9. Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini
dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif di mana
psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien mengalami
percaya diri, sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan
secara berulang. Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif
dan lain-lain.
10. Terapi Psikoreligius
Terapi ini dengan menggunakan pendekatan agama dalam
mengatasi permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi permasalahn psikologis
mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat
secara fisik, psikis, sosial, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami
dapat diatasi.
11. Homeostatis
Merupakan suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini
dapat terjadi apabila tubuh mengalami stres yang ada sehingga tubuh secara
alamiah akan melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kondisi yang
seimbang, atau juga dapat dikatakan bahwa homeostatis adalah suatu proses
perubahaan yang terus menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi
terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis yang terdapat dalam tubuh manusia dapat
dikendalikan oleh suatu sistemendokrin dan syaraf otonom. Secara alamiah proses
homeostatis dapat terjadi dalam tubuh manusia. Dalam mempelajari cara tubuh
melakukan proses homeostatis ini dapat melalui empat cara di antaranya:
a. Self regulation di mana sistem ini terjadi secara
otomatis pada orang yang sehat sepertidalam pengaturan proses sistem fisiologis
tubuh manusia.
b. Berkompensasi
yaitu tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidak normalan dalam tubuh.
c. Dengan cara sistem umpan balik negatif, proses
ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal segera dirasakan dan diperbaiki
dalam tubuh dimana apabila tubuh dalam keadaan tidak normal akan secara sendiri
mengadakan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan dari keadaan yang ada.
d. Cara umpan balik untuk mengkoreksi suatu
ketidakseimbangan fisiologis.
Pencegahan terhadap stres bisa dilakukan dengan
mengubah sikap hidup.Orang yang terlibat lebih aktif dengan pekerjaan dan
kehidupan masyarakat,lebih berorientasi pada tantangan dan perubahan ,dan
merasa dapat menguasai kejadian-kejadian dalam hidupnya adalah orang yang tidak
akan mudah terkena efek negatif stress.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Stress menurut Hans Selye 1976
merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan
atau beban atasnya.
Manifestasi Stress ; Stres
sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya, tetapi
cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan karakteristik
individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang.
Faktor yang mempengaruhi
stress yaitu, faktor lingkungan, faktor organisasi, dan faktor individu.
Koping
merupakan cara-cara yang digunakan oleh indifidu unyuk menghadapi situasi yang
menekan.Oleh karena itu meskipun koping menjadi bagian dari penyesuaian
diri,namun koping merupakan istilah yang khusus digunakan untuk menunjukkan
reaksi individu ketika menghadapi tekanan/stress.
Ada berbagai macam koping.Pendapat
berbagai tokoh pun beragam.Ada yang menyebutkan istilah koping hanya untuk
cara-cara mengatasi persoalan yang sifatnya positif.Namun ada juga yang melihat
koping sebagai istilah yang netral.
Koping yang negatif menimbulkan
berbagai persoalan baru di kemudian hari,bahkan sangat mungkin memunculkan
berbagai gangguan pada diri individu yang bersangkutan.Sebaliknya koping yang
positif menjadikan individu semakin matang,dewasa dan bahagia dalam menjalani
kehidupannya.
3.2 Saran
Ketika kau
mengalami stress, ikutilah tips-tips cara mengatasi stress di atas. Insyaallah
manjur, dan jangan lupa berdo’a.
DAFTAR PUSTAKA
-
http://ramliaw.wordpress.com/2010/09/26/depresi-dalam-pandangan-islam/
-
http:/tips-menghilangkan-stress.blogspot.com/2012/09/apa-pengertian-stress.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar